Guru MAN IC Gorontalo Bicara Café Model di Simposium Internasional

Pengajar Bahasa Inggris pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Gorontalo, Trisnawati diundang berbicara di simposium internasional tahunan AISOFOLL. Pada kegiatan Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL) tahun ke-11 ini Trisnawati menampilkan hasil penelitiannya berjudul Enhancing Students’ Writing Proficiency in Writing Analytical Exposition using Cafe Model secara daring pada hari Selasa (06/10/2020).

Dalam penelitiannya, Trisnawati menulis perihal bagaimana meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam teks analytical exposition. Menurutnya banyak siswa menganggap teks ini sulit. Hal ini ditunjukkan dengan belum maksimalnya siswa dalam membuat penegasan awal, membuat argumen, mencari fakta yang mendukung, membuat penegasan akhir, dan menyalin tulisan dari buku teks yang sudah ada.

Dikatakannya kemampuan menulis siswa dapat ditingkatkan dan siswa menjadi termotivasi dengan CAFÉ Model yang dirancang memudahkan siswa menulis. “Dengan penerapan model pembelajaran CAFÉ (critical thinking, active, fun, environmental awareness) siswa termotivasi untuk menulis karena mereka tahu apa yang dipelajari, paham “mengapa”, topik yang dipelajari menyenangkan, dan punya kesempatan berkontribusi,” demikian Trisna yang juga Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan ini.

Dalam pada itu Plt. Kepala MAN IC Gorontalo, Sriyanto Tangahu mengatakan hal ini menjadi kebanggaan madrasah. “Alhamdulillah ini merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi MAN IC Gorontalo dimana salah seorang gurunya mendapat kepercayaan menjadi pembicara dalam simposium internasional dengan memaparkan hasil penelitiannya secara online,” ungkapnya saat dihubungi Humas di ruang kerjanya.

Dirinya juga berharap pencapaian ini menjadi pemicu bagi guru lainnya dalam pengembangan diri. “Mudah-mudahan pencapaian ini akan menjadi pemicu semangat bagi teman-teman guru lainnya untuk dapat terus mengembangkan diri, berkiprah dalam dunia pendidikan baik dalam skala nasional maupun internasional,” harap Sriyanto.

Kegiatan tahunan ini diselenggarakan oleh Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Quality Improvement for Teachers and Education Personnel (QITEP). Diselenggarakan dalam rangka menyediakan forum ilmiah bagi para ahli dan pelaku pendidikan bidang pengajaran bahasa asing. Kegiatan ini juga menghadirkan pembicara utama yang berasal dari berbagai negara.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari yakni pada 6 dan 7 Oktober 2020 diikuti 250 peserta yang terdiri atas guru, akademisi, mahasiswa, dan praktisi bahasa di wilayah Asia Tenggara. Simposium dilaksanakan dalam moda daring melalui platform Zoom dan Youtube streaming dengan menampilkan 19 pemakalah. (ATB)